Mengenal Jasa ekosistem Sungai-Sungai di Indonesia

Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mengurangi sampah plastik sebesar 70% pada tahun 2025. Semangat ini mulai ditunjukkan pada tahun 2018. Presiden Joko Widodo menetapkan Keputusan Presiden Nomor 83, tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional dalam mengurangi  sampah laut Indonesia tahun 2018-2025. Pada periode yang sama, penelitian yang dilakukan oleh Waste4Change menunjukkan setidaknya ada 20.000 sampah plastik ukuran besar (plastik makro) yang mengalir ke laut melalui sungai di Jakarta selama satu jam. Dari penelitian ini juga diketahui bahwa jumlah sampah plastik dari semua sungai di Jakarta mencapai berat 2,1 juta kilogram (Van Emmerick, Tim, 2020). Berat ini setara dengan 42.000 kali berat mahkota emas Monas. Temuan menarik lainnya dari penelitian ini yaitu kantong plastik dan bungkus makanan merupakan sampah yang paling banyak ditemukan di sungai. Dari sini dapat diasumsikan bahwa banyak orang membuang sampah ke sungai secara langsung. Lebih lanjut, fakta ini juga menunjukkan bahwa orang Indonesia masih tidak menghargai sungai. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai sungai harus terus dilakukan. 

Jasa Ekosistem sebagai Sarana Penyadaran akan Nilai Sungai Indonesia

Selama beberapa ribu tahun, sungai telah menjadi bagian dari hidup manusia dan organisme lain. Sungai menjadi sumber air untuk minum, sarana irigasi serta menjadi tempat ikan dan biota air tawar lainnya bernaung. Banyak juga sungai yang dibangun sebagai area untuk perlindungan banjir. Selain itu, sungai-sungai dapat memiliki nilai budaya dan estetika.

Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya sungai dan lebih mudah memasukannya ke dalam perencanaan pembangunan adalah dengan menggunakan konsep jasa ekosistem (Ecosystem Service/ES). Konsep ini merujuk pada kesinambungan antara ekosistem dan kesejahteraan manusia (MEA, 2003). Dengan bahasa sederhana, jasa ekosistem adalah berbagai manfaat yang diberikan suatu ekosistem kepada manusia. Sementara jasa ekosistem sungai adalah ketersediaan manfaat sungai yang bisa diperoleh oleh manusia dan organisme lain.

Dengan memahami jasa ekosistem sungai, pemerintah juga dapat secara objektif merencanakan apa yang harus dilakukan terhadap sungai kita. Salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan yang kurang terencana di daerah sungai adalah kurangnya pemahaman terhadap jasa ekosistem yang dapat diberikan oleh sungai tersebut. Lebih lanjut, pemerintah dapat berkolaborasi dengan para ilmuwan dari dalam maupun luar pemerintahan untuk memvaluasi nilai-nilai sungai kita. Untuk memberikan penghargaan yang lebih terhadap suatu ekosistem, jasa ekosistem dapat diukur dengan satuan moneter (uang). Penelitian terbaru oleh Costanza dkk. (2014) mengestimasi bahwa nilai jasa ekosistem dari seluruh ekosistem yang ada di dunia bisa setara dengan US$ 125 triliun. Jika seluruh ekosistem di dunia saja bernilai sangat besar seperti itu, bagaimana dengan nilai-nilai sungai di Indonesia?

Seberapa Berharganya Sungai-Sungai di Indonesia

Klasifikasi jasa ekosistem yang paling umum telah dikembangkan oleh Millenium Ecosystem Assessment (MEA, 2003) dan The Economics of Ecosystems & Biodiversity (TEEB, 2008). MEA dan TEEB membagi jasa ekosistem menjadi empat kategori, yaitu: jasa pendukung, jasa penyedia, jasa regulasi, dan jasa kebudayaan. 

  1. Jasa pendukung/Supporting service artinya bahwa ekosistem menyediakan ruang hidup bagi tanaman dan hewan, serta juga mendukung kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Contohnya, setiap sungai memiliki siklus nutrisi yang akan menjaga kesuburan daerah sungai. Kesuburan ini akan menjaga keanekaragaman hayati di sungai. TEEB memiliki istilah lain yaitu Jasa Habitat/Habitat Service karena manfaatnya yang menyediakan beragam jenis habitat yang dapat menunjang siklus hidup suatu spesies. Dalam konteks sungai Indonesia, sungai-sungai kita memiliki peran dalam siklus nutrisi dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh tanaman atau hewan untuk bertahan hidup: makanan, air, dan tempat berlindung.
  2. Jasa penyediaan/provisioning service yang mengacu pada kemampuan sungai menyediakan sumber daya seperti air, nutrisi, ikan, dan sumber daya lainnya. Biota sungai sudah lama dimanfaatkan baik sebagai makanan atau obat-obatan. Contohnya masyarakat Sumatera Selatan menggunakan Ikan Belida di Sungai Musi sebagai bahan utama makanan tradisional mereka yaitu pempek. Selain untuk konsumsi, air di sungai juga berpotensi digunakan sebagai sarana non-konsumtif seperti pembangkit listrik, transportasi, dan navigasi. 
  3. Jasa regulasi/Regulation Service artinya sungai di Indonesia juga dapat divaluasi dari kapasitasnya dalam bertindak seolah-olah sebagai penjaga keteraturan. Berbagai potensi pengaturan dimiliki oleh sungai-sungai di Indonesia seperti kemampuan pengendalian erosi, penahan banjir, dan penjaga kualitas air. Sebagai contoh, pada tahun 1973, Master Plan untuk Drainase dan Pengendalian Banjir Jakarta yang disusun dengan bantuan Konsultan Teknik Belanda (NEDECO), menggantungkan upaya pengendalian banjir pada dua kanal yang menampung air yang meluap dari Sungai Ciliwung, Sungai Krukut, Sungai Cideng, dan sungai-sungai lain di Jakarta.
  4. Jasa Budaya/Cultural Service yang merujuk pada kemampuan ekosistem yang memiliki manfaat non-material termasuk manfaat estetika, spiritual, dan psikologis. Beberapa sungai di Indonesia digunakan sebagai sarana kegiatan rekreasi seperti arung jeram di Sungai Asahan, Sumatera Utara, kayak di Sungai Mahakam, Kalimantan, hingga memancing. Pemandangan sungai di Indonesia juga berpotensi untuk menarik wisatawan. 

Contoh-contoh di atas menunjukkan betapa berpotensinya sungai-sungai di Indonesia jika dikelola dengan baik. Semua pihak harus mulai menyadari betapa krusialnya peran sungai bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lain. Masyarakat baik yang tinggal di dekat sungai maupun masyarakat umum harus mulai berhenti membuang sampah di sungai. Selain merusak keindahan dan mengotori laut, ekosistem di sungai sendiri bisa rusak dan bisa membawa dampak buruk bagi masyarakat, seperti banjir hingga erosi. Pemerintah juga harus mulai melakukan kajian terhadap potensi yang dimiliki oleh sungai-sungai di Indonesia. Dengan mengetahui nilai manfaat dari sungai tersebut, pemerintah dapat terbantu untuk merencakan rencana pembangunan yang tepat guna pada lanskap sungai di negeri ini.

Ditulis oleh: Rio Alfajri

Referensi  

Böck, K., Polt, R., & Schülting, L. (2018). Ecosystem Services in River Landscapes. In Riverine Ecosystem Management (pp. 413-433). Springer, Cham.  

Costanza R, de Groot R, Sutton P, van der Ploeg S, Anderson SJ, Kubiszewski I, Farber S, Kerry Turner R (2014) Changes in the global value of ecosystem services. Glob Environ Chang 26 (May):152–158. https://doi.org/10.1016/j.gloenvcha.2014.04.002  

MEA (2003) Ecosystems and human well-being: a framework for assessment. Washington, DC. http://www.millenniumassessment.org/en/Framework.html  

Satria, Arif. 2018. Indonesia is the Second Largest Plastic Waste Contributor in the World. Available at https://ipb.ac.id/news/index/2018/10/indonesia-is-the-second-largest-plastic-waste-contributor-in-the-world/65b58e2ccb3ffe42cd0470ea3624b018. Accessed at 08 July 2020.  

Van Emmerick, Tim. 2020. Research: Indonesia’s Ciliwung among the World’s Most Polluted Rivers. Available at https://theconversation.com/research-indonesias-ciliwung-among-the-worlds-most-polluted-rivers-131207. Accessed at 08 July 2020. 

Share Social Media

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Related Articles

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?     Dari dulu Sungai Citarum itu dikenal sebagai sungai yang kotor. Bahkan warga yang tinggal di Jawa Barat juga mengenalnya

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata   Greeneration Foundation tetap konsisten dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini ditunjukan melalui seminar yang diinisiasi oleh Tim

Support Organization

Support Specific Program