Si Penjerat Hewan di Laut, Dari Mana Mereka Berasal?

Tahukah kamu bahwa terdapat 13 kali lebih banyak plastik di lautan daripada bintang-bintang yang ada di galaksi Bimasakti kita. Ada sekitar 400 juta bintang di galaksi kita, jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding sampah plastik di lautan yang mencapai 5,25 triliun (Li, et al, 2015). Setiap sampah yang berakhir terapung-apung di laut disebut puing-puing laut (marine debris). Mulai dari botol, kaleng aluminium, hingga bangkai sepeda, terus beredar mengikuti arus laut mengarungi samudera. Sebagian besar dari sampah di lautan ini adalah plastik. Lalu bagaimana sampah plastik yang banyak ini bisa berakhir di lautan kita?

Kita dapat mengklasifikasikan sumber dari sampah laut ini menjadi dua jenis, yaitu yang berasal dari aktivitas manusia di darat dan dari aktivitas manusia di laut. Jenis pertama adalah sampah plastik yang berasal dari darat (land-based marine debris). Sampah jenis ini mendominasi komposisi sampah laut. Limbah terestrial ini berkontribusi sekitar 80% dari total sampah plastik di lingkungan laut (Li et al, 2015). Beberapa hal yang bisa membuat sampah di darat berakhir di laut di antaranya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dikelola dengan buruk, sampah di sungai, air limbah yang tidak diolah, fasilitas industri dan manufaktur dengan kontrol yang tidak memadai, hingga sampah plastik di daratan yang tertiup angin. Pemanfaatan wilayah pesisir untuk rekreasi dan perilaku pariwisata yang tidak bertanggung jawab juga menyebabkan sampah di darat mudah masuk ke laut. (Barnes et al. 2009).

Kombinasi faktor perilaku konsumsi plastik berlebihan, TPA yang tidak terkelola, dan cuaca menghasilkan sampah plastik di laut. Aktivitas yang tampaknya biasa saja dalam kehidupan sehari-hari dapat menyebabkan plastik berpotensi mencemari lautan kita. Manusia sering meninggalkan sampah di pantai saat berekreasi. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai juga masih sering membuang sampah rumah tangganya ke aliran air seperti selokan atau sungai. Hal ini ditambah buruk dengan faktor cuaca seperti angin yang dapat meniup sampah dari tempat pembuangan sampah dan yang berserakan ke saluran air yang mengarah ke laut. Pada akhirnya, konsumsi plastik yang terlalu banyak dan perilaku sembarangan dalam membuang sampah membuat plastik mudah mencemari sungai dan laut yang menjadi muaranya.

Meskipun, land-based marine debris dianggap menjadi sumber utama sampah laut, variasi regional ikut memengaruhi saluran mana yang paling sering membuat plastik berakhir di laut. Secara umum, semakin padat populasi, semakin banyak sampah plastik yang dihasilkan dan berpotensi berakhir di laut. Bagaimana di Asia? Saluran mana yang berkontribusi lebih banyak puing ke lautan kita? 

Lebreton et al. (2017) berpendapat bahwa sungai di Asia memasok sekitar 67% dari sampah plastik tahunan ke lingkungan laut. Salah satu sungai di Asia, Sungai Yangtze, terbukti sebagai sumber limbah plastik terbesar. Sungai ini mengirimkan sekitar 330.000 ton plastik ke laut pada tahun 2015 (Lebreton et al., 2017). Penelitian lain dari Jambeck et al. (2015) memperkirakan ada total 4,8 hingga 12,7 juta ton limbah plastik, dari 192 negara yang dibuang ke lingkungan laut. Selain itu, masih banyak negara di Asia yang memiliki manajemen sampah yang tidak memadai dan tidak bijak dalam mengelola limbah plastik. Di antara negara-negara tersebut adalah Tiongkok, Indonesia, Sri Lanka dan India (Jambeck et al., 2015). Jika manajemen limbah plastik dan perilaku membuang sampah tidak diperbaiki, diperkirakan jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut akan meningkat signifikan pada tahun 2025.

 

Jenis kedua dari sampah laut adalah yang berasal dari aktivitas manusia di laut (ocean-based debris). Meskipun sumber ini dianggap berkontribusi hanya 20% dari keseluruhan sampah plastik di laut, mengetahui sumbernya bisa menjadi awal yang baik untuk kita meminimalkan marine debris. Ada beberapa aktivitas manusia di laut yang menjadi sumber sampah laut di antaranya pengeboran minyak, transportasi baik kargo atau manusia, dan aktivitas lainnya. Namun demikian, aktivitas yang paling banyak menghasilkan sampah plastik di lingkungan laut adalah penangkapan ikan komersial (Li et al., 2015). Lebih dari 40 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1975, dari hasil aktivitas penangkapan ikan dihasilkan sampah plastik 135.400 ton dari alat tangkap plastik dan sekitar 23.600 ton bahan kemasan sintetis (Cawthorn, 1989).

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Ternyata semakin buruk. Jumlah alat tangkap berbahan plastik terbuang ke lingkungan mencapai empat kali lipat dari tahun 1975. Diperkirakan 640.000 ton alat tangkap plastik yang dibuang ke lautan, merepresentasikan sekitar 10% dari total sampah laut (Good et al., 2010). Sampah laut jenis ini contohnya monofilamen dan jaring nilon. Keduanya mengapung di lautan dan berbahaya bagi makhluk hidup yang tinggal di lautan. Seringkali mereka menjerat organisme air pada kedalaman yang berbeda (Lozano dan Mouat, 2009).

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa sampah di lautan dihasilkan oleh aktivitas manusia baik di darat maupun di laut itu sendiri. Plastik adalah komposisi terbesar dari sampah-sampah yang mengapung di lingkungan laut. Sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap konsumsi plastik, perilaku membuang sampah sembarangan ke sungai, aktivitas penangkapan ikan komersial berlebihan, dan pengelolaan TPA secara tidak bijak adalah penyebab-penyebab utama dari banyaknya polusi plastik di laut. Aktivitas dan perilaku manusia adalah penyebab sampah laut. Di sisi lain, manusia juga merupakan solusi utama untuk menyelamatkan lingkungan laut kita selain tentunya teknologi dalam mengelola sampah plastik di darat sehingga mencegahnya menjadi penjerat di lautan.

Penulis: Rio Alfajri

 
 

Sumber

Barnes, D.K.A., Galgani,F., Thompson, R.C.,Barlaz, M., 2009. Accumulation and fragmentation of plastic debris in global environments. Philos. Trans.R. Soc., B364,1985–1998.

Cawthorn, M., 1989. Impacts of marine debris on wildlife in New Zealand coastal waters. Proceedings of Marine Debris in New Zealand’s Coastal Waters Workshop, 9 March 1989. Department of Conservation, Wellington, New Zealand, pp. 5–6.

Good, T.P., June, J.A., Etnier, M.A., Broadhurst, G., 2010. Derelict fishing nets in Puget Sound and the Northwest Straits: patterns and threats to marine fauna. Mar. Pollut. Bull. 60, 39–50.

Jambeck, J.R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T.R., Perryman, M., Andrady, A., and Law, K. L., 2015, Plastic waste inputs from land into the ocean. Science 347(6223), 768–771.

Lebreton, L.C.M., Zwet, J.V.D., Damsteeg, J.W., Slat1, B., Andrady, A., and Reisser, J., 2017, River plastic emissions to the world’s oceans. Nature Communications 8, 15611. doi:10.1038/ncomms15611

LI, W. C., Tse, H. F., & Fok, L. (2016). Plastic waste in the marine environment: A review of sources, occurrence and effects. Science of the Total Environment566, 333-349.

Lozano, R.L., Mouat, J., 2009. Marine Litter in the North-East Atlantic Region: Assessment and Priorities for Response (KIMO International).

Share Social Media

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Related Articles

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?     Dari dulu Sungai Citarum itu dikenal sebagai sungai yang kotor. Bahkan warga yang tinggal di Jawa Barat juga mengenalnya

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata   Greeneration Foundation tetap konsisten dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini ditunjukan melalui seminar yang diinisiasi oleh Tim

Support Organization

Support Specific Program