Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang: Ancaman bagi Sungai-Sungai di Indonesia

Ketersediaan air bersih adalah salah satu faktor penentu utama kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Sejak Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan pertumbuhan populasi, tantangan menyediakan air bersih untuk kehidupan semakin meningkat. Tingginya permintaan akan air bersih juga membuat permintaan akan pengelolaan sumber daya air yang bertanggung jawab menjadi semakin intensif.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak sumber daya air, salah satunya sungai-sungai yang tersebar di nusantara. Secara geografis, Indonesia dibagi menjadi 131 wilayah wilayah sungai dengan lebih dari 5.700 sungai, termasuk bendungan dan kanal-kanal. (ADB, 2016). Dengan demikian, seharusnya bukanlah hal yang sulit untuk menyediakan air bersih bagi seluruh populasi Indonesia. Dalam artikel sebelumnya, kita juga telah membahas tentang jasa ekosistem sungai yang berpotensi memberikan manfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. 

Sayangnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama beberapa dekade terakhir dan semakin tingginya laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi membuat sungai-sungai Indonesia menghadapi banyak masalah saat ini. Masalah yang paling mendesak adalah pencemaran air di sungai-sungai yang banyak melalui kawasan industri dan pemukiman warga. Pencemaran sungai ini mempengaruhi kualitas air di sungai kita. Untuk memahami kualitas sungai, kita dapat merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 82/2001 tanggal 14 Desember 2001. Menurut peraturan ini, kualitas air dibagi menjadi 4 kelas, yaitu:

(i) Kelas I, air yang dapat digunakan untuk keperluan minum;

(ii) Kelas II, air yang dapat digunakan untuk rekreasi air, budidaya ikan, irigasi, dan penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas serupa;

(iii) Kelas III, air yang dapat digunakan sebagai alat/fasilitas budidaya ikan, irigasi, dan/atau penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas yang serupa dengan manfaatnya; dan

(iv) Kelas IV, air yang hanya dapat digunakan untuk irigasi, dan penggunaan lainnya yang membutuhkan kualitas serupa

Asian Development Bank (ADB) melalui Country Water Assessment (2016), melaporkan bahwa kualitas air sungai di Indonesia buruk. Beberapa parameter digunakan untuk menilai kualitas sungai Indonesia seperti ketersediaan oksigen secara kimiawi dan biologis, banyaknya kandungan bakteri fecal coli, dan total banyaknya coliform. ADB melakukan studi terhadap 44 sungai besar di seluruh Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa hanya empat sungai yang memenuhi standar Kelas II sepanjang tahun 2016 (ADB, 2016). Penilaian ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan di Indonesia berada di bawah ancaman serius. Ancaman yang lebih tinggi terutama terjadi di pulau-pulau berpenduduk padat di mana hampir semua sungai besarnya tergolong tercemar berat.

Sebagai pulau utama, Jawa juga merupakan pulau dengan jumlah penduduk terbanyak. Pesatnya pertumbuhan urbanisasi ke pulau Jawa dan kelangkaan tanah untuk pemukiman menarik orang untuk tinggal di dekat sungai. Implikasi dari permukiman padat di dekat sungai adalah semakin banyak sampah rumah tangga dibuang secara sembarangan ke sungai.

Sungai-sungai utama di Jawa seperti Citarum dan Cimanuk di barat, Serang dan Serayu di Jawa tengah, dan Solo dan Brantas di timur (ADB, 2016) hampir semuanya sekarang sedang tercemar. Bahkan salah satunya yaitu Sungai Citarum mendapat predikat sebagai sungai paling tercemar di dunia. Dalam laporan dari Black Smith Institute dan Green Cross Switzerland (2013), Indonesia menerima “kehormatan” yang tidak diinginkan tersebut dalam sebuah laporan yang berisi tempat-tempat yang paling tercemar di dunia.

Biaya dari sungai yang tercemar yang harus ditanggung oleh masyarakat sangat besar seperti berkurangnya sumber daya air bersih, hilangnya potensi jasa ekosistem sungai, dan meningkatnya risiko bencana seperti banjir bandang. Belum lagi kerusakan ekosistem laut yang juga terdampak polusi sungai yang mengalir ke laut. Beberapa sungai mengalir langsung ke lautan membawa polusi termasuk bahan kimia beracun, limbah rumah tangga, dan polusi plastik. Sebagai akibatnya, lautan juga semakin memburuk dari hari ke hari.

Beberapa upaya sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memulihkan sungai seperti mengeluarkan Keputusan Presiden No. 83, 2018 tentang Rencana Aksi Nasional menangani Sampah-Sampah Laut tahun 2018-2025 dan membentuk satuan tugas (Satgas) untuk membersihkan sungai salah satunya Satgas Citarum Harum. Namun, upaya pemerintah kita ini tidak bisa berjalan sendiri, kita harus mendukung program pemulihan sungai-sungai di Indonesia. Pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat sipil harus berkolaborasi untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan mengedukasi publik tentang sikap yang bertanggung jawab terhadap sungai.

Ditulis oleh: Rio Alfajri

Referensi:

Asian Development Bank. 2016. Indonesia Country Water Assessment. Accessed at https://www.adb.org/sites/default/files/institutional-document/183339/ino-water-assessment.pdf at 20th July 2020

Blacksmith Institute. 2013. THE WORLDS WORST 2013: THE TOP TEN TOXIC THREATS. Accessed at https://www.worstpolluted.org/docs/TopTenThreats2013.pdf at 20th July 2020

Government Regulation No. 82/2001 dated 14 December 2001

Share Social Media

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Related Articles

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?     Dari dulu Sungai Citarum itu dikenal sebagai sungai yang kotor. Bahkan warga yang tinggal di Jawa Barat juga mengenalnya

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata   Greeneration Foundation tetap konsisten dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini ditunjukan melalui seminar yang diinisiasi oleh Tim

Support Organization

Support Specific Program