Revealing the True Value of Indonesian River

Indonesia is dubbed the world’s second-largest marine polluter, only left behind China as the largest producer of plastic waste (Satria, Arif, IPB University, 2018). Of course, this is not the race that we are eager to win. The government of Indonesia possesses a positive spirit to reduce 70% of the plastic waste by 2025. In 2018, President Joko Widodo established Presidential Decree Number 83 about the National Plan of Action in combating the Marine Debris 2018-2025

Read More »

Restoring the River: A Momentum of National River Day

Water is a major determinant of the well-being of the people in Indonesia. Since Indonesia grows, in terms of population and economic, the challenges to provide clean water for living is increasing. The high demand for clean water makes the demand of responsible water resource management is getting intensive.

Read More »

Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang: Ancaman bagi Sungai-Sungai di Indonesia

Ketersediaan air bersih adalah salah satu faktor penentu utama kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Sejak Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan pertumbuhan populasi, tantangan menyediakan air bersih untuk kehidupan semakin meningkat. Tingginya permintaan akan air bersih juga membuat permintaan akan pengelolaan sumber daya air yang bertanggung jawab menjadi semakin intensif.

Read More »

Mengenal Jasa ekosistem Sungai-Sungai di Indonesia

Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mengurangi sampah plastik sebesar 70% pada tahun 2025. Semangat ini mulai ditunjukkan pada tahun 2018. Presiden Joko Widodo menetapkan Keputusan Presiden Nomor 83, tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional dalam mengurangi sampah laut Indonesia tahun 2018-2025. Pada periode yang sama, penelitian yang dilakukan oleh Waste4Change menunjukkan setidaknya ada 20.000 sampah plastik ukuran besar (plastik makro) yang mengalir ke laut melalui sungai di Jakarta selama satu jam.

Read More »

Membawa Isu Pencemaran Laut ke Permukaan

Asia adalah benua yang paling banyak menyumbang polusi plastik di dunia. Menurut sebuah laporan dari Jambeck et al (2015), 8 dari 10 negara teratas yang diberi peringkat berdasarkan jumlah sampah plastik yang salah kelola adalah negara-negara Asia. Peningkatan pesat dalam permintaan konsumen untuk produk yang menggunakan kemasan plastik sekali pakai adalah alasan utamanya. Hal ini diperparah oleh sistem pengelolaan limbah padat yang tidak memadai dan perilaku buruk dalam membuang sampah ke sungai yang bermuara ke lautan.

Read More »

Si Penjerat Hewan di Laut, Dari Mana Mereka Berasal?

ahukah kamu bahwa terdapat 13 kali lebih banyak plastik di lautan daripada bintang-bintang yang ada di galaksi Bimasakti kita. Ada sekitar 400 juta bintang di galaksi kita, jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding sampah plastik di lautan yang mencapai 5,25 triliun (Li, et al, 2015). Setiap sampah yang berakhir terapung-apung di laut disebut puing-puing laut (marine debris). Mulai dari botol, kaleng aluminium, hingga bangkai sepeda, terus beredar mengikuti arus laut mengarungi samudera. Sebagian besar dari sampah di lautan ini adalah plastik. Lalu bagaimana sampah plastik yang banyak ini bisa berakhir di lautan kita?

Read More »

Support Organization

Support Specific Program