Loading . . .

Komitmen Greeneration Foundation dalam Mencegah dan Menangani Dampak Krisis Iklim di Indonesia

Dalam dokumen “First Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia” (2016), dijelaskan bahwa Indonesia telah merasakan dampak dari perubahan iklim seperti fenomena cuaca ekstrem, dan peningkatan jumlah bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, kekeringan, dsb.). Wilayah Indonesia yang berupa kepulaun juga terancam oleh kenaikan muka air laut. Semua ancaman ini juga berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan dan ruang hidup bagi masyarakat di wilayah rentan. Menyadari hal ini, Indonesia bersama negara-negara dunia telah menyatakan komitmen untuk menghadapi perubahan iklim sesuai yang tertuang dalam Persetujuan Paris. Indonesia menyatakan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tanpa syarat, serta 41% bila dengan dukungan internasional pada tahun 2030, mengacu pada skenario business as usual. Target penurunan emisi yang disebut sebagai Nationally Determined Contribution (NDC) ini terbagi pada 5 sektor, kehutanan (deforestasi dan alih guna lahan), pertanian/agrikultur, limbah, industri dan penggunaan produk, serta energi. 

Mempertimbangkan bahwa dampak perubahan iklim telah jelas bisa dirasakan di berbagai wilayah, serta bahwa pemerintah telah memiliki komitmen untuk mengatasi permasalahan ini, tantangan berikutnya bagi pembuat kebijakan adalah dalam implementasi dan realisasi kebijakan ini dalam berbagai proyek dan program kebijakan. Bagaimanakah perkembangan terkini dari upaya tersebut, bila dilihat dari perspektif organisasi masyarakat sipil yang berhadapan secara langsung dengan dampak dan upaya penanganan perubahan iklim pada bidang serta domisili yang berbeda-beda? Masalah-masalah mendesak apa sajakah yang memerlukan perhatian khusus dari para pembuat kebijakan, serta program dan kebijakan apa saja yang bisa diambil pemerintah sebagai alternatif solusi pada masalah bersangkutan? 

Pertanyaan-pertanyaan ini didiskusikan bersama dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) pada Rabu, 23 September 2020. Greeneration Foundation sebagai organisasi nirlaba yang fokus dalam isu persampahan turut hadir dalam agenda tersebut. Greeneration Foundation yang saat diskusi diwakili oleh Dimas Teguh Prasetyo (Program Manager Ecoranger) membahas pentingnya perubahan perilaku manusia sebagai kunci dalam penanganan sampah. Menurutnya, permasalahan sampah akan berdampak langsung pada krisis iklim. Sampah yang tidak terkelola dengan baik akan lebih banyak menghasilkan timbunan di tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi, Indonesia masih menerapkan sistem open dumping yang berpotensi menghasilkan dampak negatif pada pelepasan gas metana dan kandungan berbahaya lain ke atmosfer. Oleh karena itu, Greeneration hadir dalam membantu masyarakat, dan stakeholder lainnya dalam meminimalisir dampak tersebut melalui program-program inovatif dan berkelanjutan. 
Dalam FGD yang diselenggarakan oleh The Climate Reality Project Indonesia, Greeneration Foundation juga memberikan beberapa usulan kebijakan terhadap pemerintah. Pertama, pemerintah perlu menyusun kebijakan atau regulasi yang dapat mendukung upaya pengurangan limbah. Kedua, pemerintah perlu menyusun standar yang mengusung prinsip-prinsip ekonomi sirkular untuk dapat diterapkan ke sektor industri agar dapat menekan laju peningkatan emisi atau gas rumah kaca. Ketiga, mendorong pemerintah lebih masif dalam mengkampanyekan gaya hidup berkelanjutan ke masyarakat luas. Keempat, pemerintah perlu mewujudkan sistem satu data persampahan yang memiliki sinkronisasi dan integrasi dengan seluruh aset dan informasi persampahan di Indonesia. Terakhir, pemerintah perlu membentuk tim khusus yang berfungsi mengawasi penerapan 5 aspek manajemen persampahan hingga level daerah. Usulan-usulan ini kemudian akan dimajukan dalam aksi friday for future bersama para policy makers pada Jumat, 25 September 2020.

 

Support Organization

Support Specific Program