Mikroplastik Mengancam Makhluk Hidup

Hai Generasi Hijau!

Sudah tau kan Apa Itu Mikroplastik? atau mungkin beberapa diantara kalian masih ada yang belum tau efek dan bahayanya bagi manusia ataupun hewan-hewan sekitar karena pemberitaan yang sedikit terkait Mikroplastik ini?

Berikut kami rangkum informasi dan pemberitaan terkait Mikroplastik yang mengancam Makhluk Hidup:
  1. Tahun 2012, Coelacanth yang merupakan salah satu jenis ikan langka yang berasa dari Sulawesi Utara ditemukan mati dan setelah di bedah ditemukan banyak sampah plastik di dalam tubuhnya.
  2. Tahun 2015, Cemaran mikroplasik pun ditemukan dalam penccernaan ikan dan kerang yang dijual ditempat pelelangan ikan terbesar di makassar, Sulawesi Selatan. Disebutkan sepertiga sampel atau 28 persennya mengandung mikroplastik, ada 76 ikan yang diteliti kandungan mikroplastiknya dari 11 jenis ikan berbeda.
  3. Tahun 2013, Menurut data yang di laporkan Ekspedisi Widya Nusantara LIPI hewan laut yang terbelit dan memakan sampah hingga saat ini setidaknya sudah mencapai 267 spesies di seluruh dunia.
  4. Tahun 2016, pada hasil penelitian di lakukan oleh Dian dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Kandungan Mikroplastik Pada Pasir dan Ikan demersal: kakap dan kerapu di pantai Ancol, Palabuhanratu dan labuan“, jenis mikroplastik yang paling banyak di temukan di dalam pencernaan ikan kakap dan kerapu adalah fiber, ikan tersebut diambil di perairan Ancol, Palabuhan Ratu dan Labuan.
  5. Tahun 2013, Dari 504 ikan demersal dan ikan pelagis, sekitar 36,5% diantaranya ditemukan mikroplastik dalam saluran pencernaannya.
  6. Tahun 2013, Dalam Laporan Ekspedisi Widya Nusantara LIPI, 44% seluruh spesies burung laut, ditemukan telah memakan sampah plastik, 43% seluruh spesies mamalia laut, sejumlah besar ikan dan spesies kurstasea mengkonsumsi sampah plastik.
  7. Tahun 2017, Menurut hasil data penelitian sampah plastik telah membunuh 1.000 penyu laut setiap tahunnya.
Selain pada hewan-hewan tersebut mikroplastik ini memungkinkan terkonsumsi oleh manusia, karena ukurannya yang mikroskopis. Mikroplastik ini menjadi ancaman bagi rantai makanan pada hewan bahkan manusia.
 
Gambar: Mikroplastik mengancam rantai makanan
 
 
Jika Mikroplastik ini sampai terkonsumsi oleh manusia secara sadar ataupun tidak, beberapa kerusakan pada jaringan tubuh kita mungkin terjadi. Dari 95% partikel pada air yang telah diuji berukuran antara 6,5-100 microns:
  • Kurang dari 20 microns, memungkinkan masuk ke dalam organ termasuk hati dan ginjal
  • Kurang dari 110 microns, memungkikan masuk melewati pembuluh vena yang membawa dari usus pankreas dan limpa ke hati
  • Kurang dari 150 microns, memungkinkan diserap ke dalam jaringan limfatik di usus
  • Lebih besar dari 150 microns, tidak dapat diserap

Hingga saat ini menurut BPOM belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) selaku lembaga pengkaji risiko untuk keamanan pangan di bawah FAO-WHO belum mengevaluasi toksisitas plastik dan komponennya. Oleh karena itu, belum ditetapkan batas aman untuk mikroplastik. Dan Codex, sebagai badan standar pangan dunia di bawah FAO-WHO belum mengatur ketentuan tentang mikroplastik pada pangan.

Namun belum adanya pernyataan resmi, bukan berarti bahaya mikroplastik tersebut tidak terbukti. Oleh karena itu terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan pemerintah:

  • Dampak sampah plastik yang terkonsumsi manusia memang belum di teliti secara detail dan pasti, namun secara jelas keadaan ini mempengaruhi keamanan pangan.
  • Perlu adanya peningkatan keamanan pangan perikanan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, No. 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan.
  • Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan agar dapat menjamin masyarakat terhindar dari mengkonsumsi pangan terutama pangan segar yang terkontaminasi oleh cemaran biologis, kimia maupun cemaran fisik
  • Mengingat masalah keamanan pangan belum menjadi prioritas dalam menetapkan preferensi memilih pangan untuk dikonsumsi, dan sebagian besar pertimbangan adalah pada pangan dengan harga murah.
  • Keamanan pangan tidak bisa dilakukan hanya dengan menanggulangi dampaknya karena itu pencegahan sangat pentinng melalui edukasi.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh kita sebagai masyarakat?

Ada beberapa hal yang dapat mengurangi pencemaran mikroplastik pada makhluk hidup:

  1. Buang lah sampah pada tempatnya
  2. Pilah lah sampah sesuai jenisnya
  3. Kurangi penggunaan yang berbahan dasar Plastik
  4. Gunakan Plastik secara bijak!
  5. Bawa lah Misting dan Tumblr untuk mengurangi penggunaan plastik
  6. Ingatkan teman sekitar untuk bersama-sama mengurangi sampah plastik

Selamat mencoba Gerenasi Hijau!

#EnergyOfAugust
#GreenerationFoundation

Sumber:

  1. http://eprints.undip.ac.id/4373/1/3-Putut-new.pdf
  2. http://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/klarifikasi/81/PENJELASAN-BPOM-RI–TENTANG-ISU-KANDUNGAN-MIKROPLASTIK-PADA-AIR-MINUM-DALAM-KEMASAN.html
  3. https://orbmedia.org/stories/plus-plastic/multimedia
  4. http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2017/12/17/kandungan-mikroplastik-ditemukan-dalam-ikan-dan-kerang-416028
    http://www.mongabay.co.id/2018/02/15/riset-membuktikan-ini-jenis-sampah-laut-terbanyak-di-pesisir-bali/
  5. https://sains.kompas.com/read/2017/12/20/170000423/makin-mengerikan-tiap-tahun-1.000-penyu-mati-akibat-sampah-plastik
  6. 2017, Laporan Akhir Kegiatan Penelitian Tahun Anggaran 2017; Ekspedisi Widya Nusantara 2017: Simeuleu & North-Western Sumatra Water. LIPI, Bogor.
  7. Dian Nur Hapitasari, 2016. Analisis Kandungan Mikroplastik Pada Pasir dan Ikan demersal: kakap dan kerapu di pantai Ancol, Palabuhanratu dan labuan. IPB.

Share Social Media

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Related Articles

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?

#MAUSAMPAIKAPAN Sungai Citarum Kotor?     Dari dulu Sungai Citarum itu dikenal sebagai sungai yang kotor. Bahkan warga yang tinggal di Jawa Barat juga mengenalnya

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata   Greeneration Foundation tetap konsisten dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini ditunjukan melalui seminar yang diinisiasi oleh Tim

Support Organization

Support Specific Program