Loading . . .

Live Sharing Session EcoRanger X MallSampah

Menurut data Economic Intelligence Unit tahun 2018 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia sebagai penghasil sampah makanan. Setidaknya setiap orang di Indonesia menghasilkan sampah makanan sebesar 300 kilogram setiap tahunnya. Ditambah lagi, kegiatan konsumsi produksi dan konsumsi manusia tidak bisa berhenti. Badan Pangan Dunia atau FAO sendiri menyatakan bahwa sampah makanan tidak bisa menjadi 0, melainkan dapat ditekan seminimal mungkin. Oleh karena itu, isu food waste menjadi salah satu permasalahan yang harus segera diatasi bersama.  

Permasalahan food waste ini menjadi penting dibahas tidak hanya dari satu sudut pandang keilmuan saja. Salah satu disiplin ilmu yang melihat isu food waste adalah psikologi. Psikologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia. Keberadaan psikologi dalam isu lingkungan lebih cenderung melihat faktor apa saja dari diri manusia yang berkontribusi dalam hubungan manusia dengan alam. Tidak hanya itu, psikologi juga berkontribusi memberikan alternatif solusi kepada manusia dalam menjaga keseimbangan alam melalui eksperimen lab dan sosial. 

Dalam sharing session yang diadakan oleh ecoranger.id dan mallsampah pada Sabtu, 22 Agustus 2020, didiskusikan juga beberapa temuan ilmiah yang melihat adanya hubungan antara psikologi dan isu food waste. Dalam riset-riset terdahulu, isu food waste dalam disiplin psikologi lebih banyak menyoroti adanya perilaku menyisakan makanan atau biasa disebut sebagai food waste behavior. Dimas Teguh Prasetyo sebagai Program Manager Ecoranger Greeneration Foundation menuturkan terdapat beberapa temuan menarik terkait hal tersebut. Misalnya, individu cenderung menyisakan makanan di pesta pernikahan karena merasa “lapar mata” setelah melihat pengunjung lain mengambil makanan secara berlebihan. Temuan ini juga mengkonfirmasi temuan sebelumnya bahwa tanpa disadari perilaku individu lain di sebuah situasi mampu mempengaruhi perilaku individu dalam menyisakan makanan (Stockli, Dorn & Liechti, 2018). 

Pada diskusi 60 menit melalui instagram live yang dipandu oleh Firda (Communication Officer Mall Sampah) juga membahas solusi pencegahan dan penanganan sampah makanan. Dimas menuturkan bahwa ilmu psikologi juga mampu memberikan alternatif pencegahan sampah makanan. Misalnya, pemberian poster yang mengaktifkan norma sosial, manipulasi ukuran piring dalam kegiatan prasmanan, dan sebagainya. Sedangkan dalam upaya penanganan, praktik baik seperti mengompos dapat terus digaungkan sebagai sebuah kebiasaan. Semangat pencegahan dan penanganan food waste yang humanis ini juga menjadi salah satu agenda utama dalam program ecoranger di beberapa kota di Indonesia. Dari diskusi ini diharapkan program-program ecoranger dapat melibatkan disiplin ilmu psikologi dalam menanggulangi masalah-masalah lingkungan yang dihasilkan oleh manusia.

Referensi Artikel :

Economic Intelligence Unit. (2018). Food sustainability index. diakses dari https://foodsustainability.eiu.com/food-loss-and-waste/

Prasetyo, D. T. (2019). Faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang berperilaku food waste di pesta pernikahan?. Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan, 6(02), 87-92.

Stöckli, S., Dorn, M., & Liechti, S. (2018). Normative prompts reduce consumer food waste in restaurants. Waste management, 77, 532-536

Support Organization

Support Specific Program