Membawa Isu Pencemaran Laut ke Permukaan

Asia adalah benua yang paling banyak menyumbang polusi plastik di dunia. Menurut sebuah laporan dari Jambeck et al (2015), 8 dari 10 negara teratas yang diberi peringkat berdasarkan jumlah sampah plastik yang salah kelola adalah negara-negara Asia. Peningkatan pesat dalam permintaan konsumen untuk produk yang menggunakan kemasan plastik sekali pakai adalah alasan utamanya. Hal ini diperparah oleh sistem pengelolaan limbah padat yang tidak memadai dan perilaku buruk dalam membuang sampah ke sungai yang bermuara ke lautan.

Indonesia sendiri berada di peringkat kedua dalam laporan itu, di bawah Tiongkok. Indonesia menghasilkan 65 juta ton limbah padat pada tahun 2016 menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sekitar 69% ditimbun, 7% didaur ulang dan dibuat kompos, dan 24% dibakar secara ilegal atau dibuang secara tidak bertanggung jawab (salah kelola). Di antara limbah padat lainnya, plastik adalah salah satu yang sangat menantang untuk ditangani. Setiap tahun volume sampah plastik meningkat 10 juta ton. Indonesia menyumbang 1,49 MMT / tahun limbah plastik ke laut dan diproyeksikan oleh Jambeck et al (2015) bahwa pada tahun 2025 jumlahnya akan lebih dari dua kali lipat.

Untungnya, upaya untuk mengatasi masalah ini tumbuh di Indonesia sebagai bagian dari upaya internasional untuk melindungi lingkungan. Beberapa negara di dunia menyediakan program pengurangan limbah plastik seperti perpajakan, kantong plastik tipis, serta menerapkan teknologi dan rekayasa sosial untuk mengubah perilaku masyarakat terhadap limbah plastik. Pemerintah Indonesia ikut mengambil peran aktif dalam mengatasi masalah ini. Beberapa inisiatif untuk mencegah sampah laut yang dilakukan oleh berbagai aktor di Indonesia didukung oleh pembentukan Peraturan Presiden No. 83, 2018 tentang Rencana Aksi Nasional menangani Sampah di Laut periode 2018-2025. Rencana Aksi Nasional ini dilakukan untuk mengatasi sampah laut dari sumbernya melalui perbaikan dalam pengelolaan limbah rumah tangga.

Knowledge Gaps dalam Masalah Isu Sampah di Lautan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saat ini banyak negara masih menghadapi masalah kesenjangan pengetahuan (knowledge gaps) di masyarakat. Banyak masyarakat yang masih menganggap remeh tentang pentingnya lingkungan laut bagi kehidupannya. Keterbatasan pengetahuan tentang jenis plastik seperti apa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari serta bahayanya menyebabkan pengabaian terhadap sampah plastik yang mereka hasilkan. 

Padahal, jika masyarakat menjadi lebih sadar akan plastik yang mereka gunakan dan kerugiannya bagi lingkungan, perilaku membuang sampah sembarangan diharapkan dapat berubah secara dramatis. Asumsi ini dikemukakan McKinley dan Fletcher (2012) bahwa peningkatan pengetahuan publik dapat menyebabkan perubahan perilaku. Salah satu yang dapat menciptakan kesenjangan pengetahuan di antaranya adalah jarak antara masyarakat ke daerah laut yang terkena dampak. Orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan dengan akses yang sulit untuk melihat langsung dampak terhadap lingkungan laut mungkin merasa tidak ada masalah sama sekali.

Berangkat dari permasalah tersebut, dalam artikel ini, saya akan menunjukkan seberapa dekat sebenarnya manusia dengan plastik baik dalam hal penggunaan dalam kehidupan sehari-hari dan dampak yang bahkan bisa mempengaruhi kesehatan manusia. Pertama-tama, kita harus tahu jenis plastik yang kita gunakan setiap hari. Menurut Derraik (2002) dan Thompson, et. Al (2009), plastik adalah polimer organik sintetik atau semi-sintetik yang murah, ringan, kuat, tahan lama, dan tahan korosi. Karena sifatnya ini, plastik sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari kemasan untuk makanan kita, tas belanja di warung, hingga bahan pembuat pipa rumah kita. Salah satu karakteristik plastik adalah ketahanannya dan sulit terdegradasi. Oleh karenanya, limbah plastik sekali pakai menciptakan masalah serius di lingkungan terutama bagi lautan kita. Berapa lama waktu yang dibutuhkan plastik untuk sepenuhnya terdegradasi di lingkungan laut bahkan masih belum diketahui. Sehingga sampah ini terus terombang-ambing di lautan merusak ekosistem dengan jeratan atau tidak sengaja tertelan oleh organisme laut.

Sampah Plastik dalam Kehidupan Manusia

Manusia adalah penghasil pencemaran plastik terbanyak karena banyak sekali plastik yang kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak dari kita masih tidak menyadarinya. Padahal plastik-plastik dengan berbagai jenis setiap hari kita konsumsi. Polimer/plastik yang paling umum digunakan adalah polietilen densitas tinggi (HDPE), polivinil klorida (PVC), polistirena (PS), dan polietilena tereftalat (PET). Konsekuensinya, polimer-polimer ini juga yang paling umum ditemukan mencemari lingkungan, terutama di lingkungan laut (Andrady, 2011; Engler, 2012). Karena sifatnya yang tahan korosi, diperkirakan sampah-sampah plastik akan bertahan di lingkungan hingga satu abad. 

Kita biasanya menggunakan polimer jenis HDPE dalam bentuk botol deterjen, tabung susu, dan juga pipa. HDPE jika terdapat dalam tubuh dapat melepaskan bahan kimia estrogenik yang mengakibatkan perubahan struktur sel manusia (Ecology Center, 1996). Plastik yang biasa digunakan berikutnya adalah Polivinil Klorida (PVC). PVC dapat ditemukan dalam bentuk tirai mandi, lantai, hingga film. Efek samping PVC jika tertelan di antaranya dapat menyebabkan kanker, cacat lahir, perubahan genetik, bronkitis kronis, hingga disfungsi hati (Ecology Center, 1996). Jenis plastik berikutnya adalah Polystyrene (PS) yang biasa kita gunakan setiap hari sebagai kemasan foam, wadah makanan, gelas sekali pakai, piring, sendok, dan sedotan plastik sekali paki. Ketika kita menggunakan gelas plastik dan sendok plastik untuk makanan kita, kita harus mulai ingat bahwa mereka memiliki efek samping bagi kesehatan. Efek kesehatan dari plastik jenis PS ini adalah iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Partikel PS juga dapat bermigrasi dalam makanan dan tertimbun dalam lemak (Ecology Center, 1996). Selanjutnya, banyak orang yang setiap harinya minum minum air mineral dan minuman berkarbonasi lain. Tahukah kalian bahwa botolnya dibuat dengan polimer polyethylene terephthalate (PET). Padahal PET berpotensi menyebabkan karsinogen pada manusia jika tertimbun dalam tubuh dalam jumlah yang banyak (Ecology Center, 1996).

Dari fakta di atas, kita bisa melihat bahwa masalah plastik tidak jauh dari kita sebagai manusia. Jika sampah plastik terus dihasilkan dan tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin partikel plastik bisa tertimbun melimpah di tubuh manusia dan menciptakan efek kesehatan. Jika Anda bertanya bagaimana bisa plastik masuk ke tubuh manusia, maka Anda perlu tahu jenis plastik berdasarkan ukurannya.

Plastik dalam ukuran besar yang biasa kita lihat dikenal sebagai macro plastik. Jenis ini telah dilaporkan mencemari lingkungan laut sejak awal kali pemakaiannya (Derraik, 2002). Ya, Anda tidak bisa menelan plastik makro ini, tetapi bagaimana dengan hewan/ikan di laut? Penelanan plastik karena keliru membedakannya sebagai makanan telah ditemukan dalam burung laut, penyu, dan mamalia laut (Jacobsen et al. 2010).

Jenis plastik yang lebih kecil diklasifikasikan sebagai plastik mikro (5 mm – 100 nm), nanoplastik (100 nm – 1 nm), dan sub-nanoplastik (<1 nm). Menurut Warring et al. (2018) plastik dalam ukuran mikro dan nano paling mungkin terinternalisasi dalam tubuh manusia dan menyebabkan kerusakan langsung pada kesehatan manusia. Plastik makro yang ditemukan di lingkungan laut dan darat dapat terdegradasi menjadi partikel mikro dan nano plastik. Plastik jenis mikro dan nano inilah yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan (food chain). Banyak organisme laut yang tidak sengaja menelan plastik mikro dan nano karena ukurannya yang kecil, terutama oleh jenis krustasea yang biasanya kita santap sebagai seafood. Meskipun, kontaminasi plastik pada rantai makanan tidak mungkin menyebabkan dampak serius hingga kontaminasinya mencapai level tinggi, tetap saja masalah limbah plastik khususnya ukuran mikro mulai menarik perhatian.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita lebih perhatian lagi terhadap kebiasaan kita dalam menggunakan plastik. Usahakan untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai sebanyak mungkin. Bawalah peralatan makan sendiri, botol minum sendiri, sehingga Anda tidak perlu menggunakan sendok plastik dan teman-temannya. Ingatlah bahwa plastik ukuran besar yang mengontaminasi laut dapat terdegradasi menjadi plastik mikro atau bahkan lebih kecil. Kampanye untuk meminimalkan sampah plastik yang dihasilkan melalui gaya hidup 3R (Reduce, Reuse, Recycle) harus terus digencarkan. Penelitian-penelitian terhadap dampak buruk sampah plastik bagi ekosistem dan manusia harus dibahasakan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat sehingga knowledge gaps di masyarakat dapat tertutup. Sampah plastik tidak hanya berbahaya karena dampak ekologis tetapi juga karena mereka dapat membahayakan keamanan pangan kita, keamanan pangan dan akibatnya kesehatan manusia.

 

Ditulis oleh: Rio Alfajri, M.Sc.

Referensi:

Andrady, A. L. (2011). Microplastics in the marine environment. Mar. Pollut. Bull., 62(8): 1596-1605.

Center, E. (1996). Plastic Task Force Report. Berkeley, CA

Derraik, J. G. (2002). The pollution of the marine environment by plastic debris: a review. Marine pollution bulletin44(9), 842-852.

Engler, R. E. (2012). The complex interaction between marine debris and toxic chemicals in the ocean. Environmental science & technology46(22), 12302-12315.

Jacobsen, J.K., Massey, L. and Gulland, F. (2010). Fatal ingestion of floating net debris by two sperm whales (Physeter macrocephalus). Marine Pollution Bulletin, 60(15), 765-767

Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., … & Law, K. L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science347(6223), 768-771.

McKinley, E., & Fletcher, S. (2012). Improving marine environmental health through marine citizenship: a call for debate. Marine Policy36(3), 839-843.

Ministry of Environment and Forestry of Indonesia. 2017. The Ministry of Environment and Forestry of Indonesia Reduces 70% Marine Debris by 2025. http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/541, Accessed date: 12 Juni 2020

Thompson, R. C., Swan, S. H., Moore, C. J., & Vom Saal, F. S. (2009). Our plastic age.

Leave a Reply

Your email address will not be published.